Make your own free website on Tripod.com

Peran UML dalam Mendukung Masyarakat Adat

 

Salah satu misi utama UML adalah ikut mendukung pembangunan daerah dan masyarakat melalui upaya konservasi KEL. UML menyadari sepenuhnya bahwa sampai saat ini masih ditemukan beberapa masyarakat adat (yang memiliki kekhasan tempat tinggal, kekerabatan dan kedekatan budaya, memiliki tata aturan kemasyarakatan yang jelas, dan memiliki hubungan yang khusus dengan hutan sekitarnya) yang bermukim disekitar KEL. Sesuai dengan misi di atas, UML telah bekerja sama dengan beberapa masyarakat adat yang ada di sekitar KEL. Bentuk kerja sama ini ada yang dilakukan melalui LSM lokal ataupun langsung dengan masyarakat adat bersangkutan. Lingkup kegiatan juga bervariasi seperti merevitalisasi sistem dan lembaga adat yang sudah pernah ada ataupun mendukung lembaga adat yang sudah cukup mapan (minimal organisasi dan peraturan adatnya sudah jelas).

 

Khusus untuk keperluan paper ini, hanya satu kasus saja yang akan dibahas secara lebih rinci yaitu, usaha mendukung kegiatan masyarakat adat di Manggamat, Aceh Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan fasilitasi dari LSM setempat bernama Yayasan Bina Alam Indonesia (YBAI). Kegiatan ini sudah dimulai sejak awal tahun 1998, walaupun formalisasi baru terjadi pada pertengahan tahun 1998.

 

Secara umum sebagian kegiatan dilapangan sudah berjalan seperti yang diharapkan walaupun ditemukan berbagai kelemahan disana-sini, sampai akhirnya kegiatan harus dihentikan karena krisis keamanan yang sangat fatal di Manggamat, yang menyebabkan ketua adat tertembak dan harus dievakuasi keluar Manggamat. Sampai saat ini kondisi lapangan masih belum kondusif sehingga kegiatan lanjutan belum dapat dilaksanakan. UML tetap memiliki komitmen untuk terus mendukung masyarakat adat Manggamat sehingga nantinya diharapkan kerja sama dengan masyarakat Manggamat dapat menjadi contoh bagi kerja sama dengan masyarakat adat lainnya di sekitar KEL.

 

1.      Latar Belakang Kegiatan

Manggamat terletak di Kabupaten Aceh Selatan, Kecamatan Kluet Utara dan terdiri dari 13 Desa yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan sebagiannya meliputi Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi Terbatas (HPT), dan Areal Penggunaan Lain (APL). Masyarakat Manggamat adalah salah satu masyarakat adat yang masih bertahan dengan segala tatacara dan peraturan adatnya. Revitalisasi sistem adat Manggamat dan beberapa kegiatan lapangan telah dimulai oleh WWF sejak pertengahan tahun 1990 yang karena satu dan lain alasan dihentikan pada tahun 1997. Selanjutnya dengan bekerja sama dengan sebuah LSM bentukan mantan staf lapangan WWF, UML melanjutkan kerja penting yang telah dirintis oleh WWF tersebut.

 

Kerja sama formal dimulai sejak di tandatanganinya kesepakatan kerja sama antara Masyarakat Adat Manggamat dengan Yayasan Leuser Internasional (YLI)/UML pada Desember 1996. Selanjutnya UML bekerja sama dengan Yayasan Bina Alam Indonesia (YBAI), LSM bentukan mantan staf lapangan WWF di Aceh Selatan, untuk membantu memfasilitasi kegiatan Pengelolaan Hutan Berbasiskan Masyarakat (CBFM) di Manggamat.

 

Dengan dukungan dana dan teknis dari UML, YBAI melaksanakan program pendampingan masyarakat Manggamat dalam hal pemanfaatan hasil hutan non kayu, berupa getah Damar dan Kruing. Untuk tahap pertama, lima kelompok masyarakat yang terdiri dari tiga kelompok damar dan dua kelompok kruing telah terbentuk dan aktif ikut serta dalam setiap kegiatan.

 

2.      Hasil yang Telah Dicapai

Terlepas dari terhentinya kegiatan di lapangan, beberapa kegiatan yang telah dilakukan dan hasil yang telah dicapai perlu dicantumkan sebagai acuan bagi pengembangan program di masa mendatang.

  1. Aspek Legal dan Institusi

*         UML bekerja sama dengan YBAI telah berhasil meyakinkan Departemen Kehutanan untuk memberikan pengakuan secara formal terhadap keberadaan kawasan hutan adat Masyarakat Manggamat. Departemen Kehutanan melalui Kanwil Kehutanan Aceh menerbitkan SK No. 445/Kpts/KWL-4/1998 tentang Penunjukan Pengusahaan Hutan Lindung Tripa-Kluet seluas 12.000 hektar sebagai Hutan Kemukiman Konservasi Manggamat kepada Yayasan Perwalian Pelestarian Alam Masyarakat Adat Manggamat (YPPAMAM).

*         Mendukung kegiatan organisasi dan administrasi YPPAMAM.

*         Meningkatkan kemampuan teknis dan pemasaran YPPAMAM melalui pengiriman wakil masyarakat Manggamat untuk mempelajari teknik penakikan pohon damar dan pemasaran damar mata kucing di Krui, Lampung.

 

  1. Aspek Teknis dan Ekonomi

*         Pembentukan dan pembinaan kelompok masyarakat;

*         Sosialisasi pentingnya kegiatan pemanfaatan hasil hutan non kayu dan konservasi hutan;

*         Penyiapan instalasi pengolahan/penyulingan getah kruing;

*         Penyewaan gudang tempat penimbunan damar;

*         Penyediaan modal awal (revolving) bagi kelompok masyarakat;

*         Penyediaan alat takik dan pengaturan penakikan pohon damar dan kruing;

*         Pengukuran diameter pohon damar oleh masing-masing anggota kelompok dengan didampingi oleh LSM pendamping;

*         Pengangkutan hasil damar ke gudang yang telah disediakan;

*         Dll.

 

3.      Permasalahan yang Dihadapi

Beberapa persoalan mendasar masih membayangi kerja sama UML dengan Masyarakat Adat di Manggamat. Beberapa di antaranya adalah:

*         Lemahnya kemampuan managerial dan teknis baik dipihak YPPAMAM maupun LSM pendamping;

*         Masih kuatnya ketergantungan sebagian Masyarakat Adat Manggamat terhadap kegiatan penebangan kayu secara illegal yang merupakan sumber cash income. Umumnya pemuda setempat dibayar oleh pihak luar untuk melakukan penebangan liar dari hutan adat di Manggamat. Sekiranya penebangan liar masih terus terjadi, maka diperkirakan keberadaan pohon damar dan kruing sebagai sumber penghasilan yang berkelanjutan akan hilang sama sekali, karena kedua jenis ini merupakan sasaran utama penebang liar. Studi yang dilakukan oleh seorang peneliti dari Canada menunjukkan bahwa walaupun tingkat partisipasi dalam kegiatan penebangan liar hanya sekitar 17 persen di kalangan Masyarakat Adat Manggamat, tetapi penghasilan yang dihasilkannya berbanding 19:1 dengan total penghasilan dari non kayu (pertanian dan pemungutan hasil hutan lainnya) (Deschamps, 2000).

*         Masih lemahnya jaringan pemasaran Damar dan Kruing sehingga hasil yang telah menumpuk tidak dapat dipasarkan dengan harga yang layak;

 

 

4.      Beberapa Pemikiran Kedepan

Jika keadaan lapangan telah memungkinkan, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan baik oleh Masyarakat Adat Manggamat maupun pihak UML, seperti disebutkan oleh Deschamps (2000) berikut ini:

*         Ekstraksi kayu dari hutan konservasi Manggamat harus dikurangi. Hal ini harus dibarengi dengan sebuah studi untuk menentukan berapa tingkat ekstraksi yang ideal yang dapat memenuhi kebutuhan kayu domestik  bagi Masyarakat Adat Manggamat;

*         Penebangan liar harus dihentikan, dan untuk ini, masyarakat adat setempatlah harus ikut berperan untuk menjaga hutannya dari kepunahan;

*         Pasar bagi produk non kayu seperti damar dan kruing harus dikembangkan dan sedapat mungkin mengurangi rantai pemasaran yang ada selama ini;

*         Kesadaran akan hubungan antara konservasi dengan kesejahteraan, keadilan, dan keberlanjutan harus ditingkatkan dikalangan Masyarakat Adat Manggamat. Selama ini hasil dari ekstraksi kayu hanya dinikmati oleh beberapa pihak saja dengan mengorbankan keberlanjutan ekonomi sebagian besar masyarakat Manggamat.