Make your own free website on Tripod.com

PERAN HUTAN DAN KEBERADAAN UML DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

 

 

PENDAHULUAN

Program Pengembangan Leuser (PPL) yang dilaksanakan oleh Unit Manajemen Leuser (UML) bertujuan untuk menciptakan kondisi yang diperlukan bagi konservasi jangka panjang Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), yaitu suatu kawasan yang luasnya sekitar 2,5 juta hektar yang merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis yang relatif masih utuh. Di dalam kawasan ini ditemukan berbagai bentuk keanekaragaman hayati (biodiversity) yang sangat bernilai dan juga dikenal sebagai satu-satunya tempat hidup empat jenis satwa besar seperti harimau, gajah, orangutan, dan badak Sumatra. Selain juga dihuni oleh 196 jenis mamalia dan 380 jenis burung, tidak kurang 40% spesies tumbuhan yang hidup di hutan tropis Indo-Malaya terdapat dikawasan ini. Beberapa dari kehidupan tersebut ternyata unik dan bahkan bersifat endemik.

 

Hasil studi “Proyek Konservasi Dan Pengembangan Terpadu” (Integrated Conservation and Development Project; ICDP) menunjukkan bahwa nilai keanekaragaman hayati tertinggi terdapat pada kawasan hutan dataran rendah yang pada umumnya terletak di luar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang dikenal selama ini. Untuk melindungi keanekaragaman hayati dan sistem penyangga kehidupan ini, diperlukan suatu kawasan konservasi yang cukup luas yang meliputi TNGL dan kawasan dataran rendah lainnya yang selama ini tidak mendapat perlindungan yang semestinya.

 

Perlindungan keanekaragaman hayati dan sistem penyangga kehidupan (life support system) telah dengan sangat jelas disebutkan di dalam UU No. 5/1990 tentang “Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,” khususnya pasal lima yang berbunyi: “Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan: (a) perlindungan sistem penyangga kehidupan; (b) pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan (c) pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hanyati dan ekosistemnya.” Selanjutnya disebutkan pula pada pasal 4 bahwa “konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah serta masyarakat.

           

Hal yang sama juga ditegaskan kembali oleh Bapak Menteri Kehutanan dan Perkebunan dalam kata sambutan beliau pada acara pertemuan CGI di Jakarta pada Tanggal 1-2 Februari 2000 yang lalu. Secara spesifik beliau menyatakan bahwa komitmen jangka panjang pengelolaan hutan adalah untuk mengembalikan hutan kepada fungsi utamanya yaitu sebagai sistem penyangga kehidupan. Hal ini ditujukan untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Sejalan dengan pesan menteri Kehutanan dan Perkebunan tersebut, UML telah dan akan terus berupaya untuk menciptakan kondisi yang diperlukan bagi perlindungan KEL dan pengelolaan yang berkelanjutan yang sesuai dengan kaedah-kaedah hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

 

Upaya-upaya yang dilakukan oleh UML dalam PPL sangat erat kaitannya dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perlindungan sistem penyangga kehidupan yang terdapat dalam KEL mempunyai implikasi terhadap berlanjutnya dukungan KEL terhadap kegiatan ekonomi masyarakat seperti pertanian, industri, dan pariwisata. Walapun demikian, perlu ditekankan bahwa dalam memandang kesejahteraan masyarakat yang bermukim di sekitar KEL, UML tidak hanya melihatnya dalam pengertian seberapa jauh kehidupan ekonomi mereka meningkat pada saat ini, tetapi juga sejauh mana KEL dapat mendukung sistem kehidupan mereka dalam bentuk berlanjutnya penyediaan jasa ekologis dan terhindarnya masyarakat dari bencana akibat terganggunya fungsi penyangga kehidupan KEL. Dengan kata lain, tujuan PPL tidak hanya mendukung kesejahteraan masyarakat saat ini, tetapi juga ingin menciptakan kondisi yang sesuai untuk mendukung kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang.

 

 

PERAN KAWASAN EKOSISTEM LEUSER BAGI

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

 

Keberhasilan upaya mengonservasikan KEL memungkinkan kawasan ini secara berkelanjutan memberikan jasanya bagi masyarakat. Jasa yang diberikan suatu Kawasan Ekosistem disebut sebagai jasa ekologis, yang dapat berupa air, makanan, ilmu pengetahuan, pengendali iklim, keindahan alam dan plasma nutfah. Keenam macam jasa ekologi ini hanya mungkin tersedia secara berkelanjutan jika fungsi ekosistem tidak terganggu. Secara ringkas jasa ekologis tersebut diuraikan sebagai berikut (Pian, 1998).[1]

*      Air : Air merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi kehidupan makhluk, termasuk manusia. Air tidak hanya dibutuhkan untuk minum, mandi dan cuci tetapi lebih luas lagi yaitu untuk irigasi, pembangkit listrik, olah raga dan rekreasi. Sebagaiman dikemukakan banyak sungai berhulu dan menjadikan Kawasan Ekosistem Leuser sebagai kawasan tangkapan airnya. Hutan yang menutupi kawasan ini mempunyai peran hidroorologi yaitu peran mengatur tata air dan mencegah terjadinya erosi. Keutuhan kawasan ini menjamin tersediannya air sepanjang tahun bagi sungai-sungai disekitarnya, tidak hanya kuantitas tetapi juga kulitas air sungai tersebut.

*      Makanan: Hutan dapat pula menyediakan beragam nutrisi bagi manusia seperti sagu, umbi-umbian, madu dan sebagainya. Untuk pertanian yang berkelanjutan, hutan diperlukan karena fungsinya sebagai daerah hunian berbagai jenis hewan yang membantu penyerbukan tanaman pertanian, serta parasit dan predator berbagai jenis hama tanaman. Sungai-sungai yang banyak terdapat dalam Kawasan Ekosistem Leuser menjadi habitat berbagai jenis ikan. Konservasi kawasan ini bererti pula melindungi berbagai bentuk kehidupan air dan memberi peluang kepadanya untuk berkembang biak. Masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai sumber makanan, terutama pupulasi yang ada di bagian sungai di luar kawasan. Pemanfaatan secara benar serta adanya upaya konservasi di dalam kawasan akan menjamin keberlanjutan produksi perairan yang ada.

*      Ilmu Pengetahuan: Kawasan Ekosistem Leuser menyimpan ilmu pengetahuan yang tiada taranya untuk dipelajari. Berbagai jenis pengetahuan dapat diperoleh dari kawasan ini seperti berbaga cabang ilmu biologi, geologi dan fisika. Hanya sebagian kecil saja dari pengetahuan tersebut yang telah diungkapkan, Bagi generasi yang akan datang, keberhasilan mengkonservasikan kawasan ini bermakna menyediakan laboratoriun alam bagi kegiatan penelitian mereka di masa depan.

*      Pengendalian iklim: Berkaitan dengan fungsi hidroorologi, Kawasan Ekosistem Leuser berperan pula sebagai pengendali iklim, paling tidak iklim regional. Pengaruhnya terhadap suhu udara, kelembaban udara, angin, serta jatuhnya hujan  akan berdampak terhadap iklim wilayah sekitarnya.

*      Keindahan alam: Bentang alam Kawasan Ekosistem Leuser sangat unik dan beragam, menjadikan banyak tempat dalam kawasan ini menjadi sangat indah dan nyaman. Keindahan alam yang ada terbukti telah menjadi daya tarik pariwisata, khususnya pariwisata alam.

*      Plasma Nutfah: Sangat diperlukan untuk pengembangan bioteknologi, khususnya dalam rangka merakit varietas unggul tanaman dan hewan. Kawasan ini kaya akan plasma nutfah, khususnya untuk tamanan hortikultura.

 

Manfaat tersebut di atas hanya mungkin diperoleh secara berkelanjutan apabila Kawasan Ekosistem Leuser berhasil dikonservasikan dengan baik. Sebaliknya bila upaya konservasi gagal, bukan manfaat yang diperoleh melainkan ancaman. Potensi anacaman kawasan ini terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya cukup besar, mengingat topografi, sifat dan jenis tanahnya yang sebagian besar sangat peka terhadap exploitasi.

 

 

DAMPAK EKSPLOITASI HUTAN TERHADAP KESEJAHTERAAN

MASYARAKAT

 

Adalah sangat menarik untuk dikaji bahwa jatuhnya berbagai kebudayaan besar dunia, selain disebabkan oleh faktor kekurangan makanan dan penyakit, juga dikarenakan oleh tindakan yang salah dalam mengelola lingkungan alam. Catatan sejarah Lembah Indus di India serta Mesopotania dan Mediterania di Asia Barat-Daya, menunjukkan bahwa eksploitasi hutan untuk kebutuhan mempertahankan pola hidup pada saat itu telah menyebabkan musnahnya tiga kebudayaan besar tersebut (Ponting, 1992).

 

Hal yang sama juga ditemukan pada berbagai peristiwa banjir dan kekeringan yang melanda Indonesia pada umumnya dan Aceh pada khususnya. Pemanfaatan hutan secara berlebihan tanpa mengindahkan keterbatasan lingkungan telah menyebabkan banjir besar pada beberapa kabupaten di D.I. Aceh. Hasil estimasi dari Elfian (1996) menunjukkan bahwa banjir yang disebabkan oleh penebangan hutan menimbulkan kerugian sekitar 54 triliun rupiah pertahun bagi D.I. Aceh.[2] Banjir besar yang terjadi di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara pada awal tahun 1996 menyebabkan 5.200 rumah hanyut, 100 km jalan rusak, 16.000 ha sawah hancur, dan 15 orang terbunuh, dengan total kerugian sekitar US$ 63 juta (Waspada, 1996, Analisa, 1996). Hasil survei UML menunjukkan bahwa akibat kekeringan karena tidak berfungsinya irigasi telah menyebabkan kerugian produksi dan infrastruktur sekitar 300 miliar pertahun (Tabel 1). Kekeringan ini di duga ada hubungannya dengan semakin menurunnya debit air dari berbagai sungai dan anak sungai yang mengalir dari KEL (Tabel 1).

 

Tabel 1. Dampak Deforestasi Terhadap Ketersediaan Air di KEL

 

Survey anak sungai dan mata air

Survey Kegagalan Irigasi

 

 

Jumlah Anak Sungai

Sisa air dibandingkan dengan 10 tahun lalu

 

 

Areal Lahan Kering

(ha)

Penyebab Kekeringan

 

 

0-10%

Kering

 

 

< 50%

Perluasan Lahan Pertanian di areal hutan

(ha)

Penebangan hutan dan perusakan daerah tangkapan air

(ha)

Kebakaran hutan

(ha)

Lain-lain

(ha)

 

993

 

 

133

(13%)

 

456

(46%)

 

18,907

 

3,527

(18%)

 

14,486

(76%)

 

306

(2%)

 

712

(4%)

 

 

Sumber : Survey UML 1998

 

Selain menurunnya sistem penyangga kehidupan di atas, rusaknya habitat satwa di KEL akibat eksploitasi hutan juga sangat mengerikan. Penelitian UML bersama konsultan internasional memperlihatkan bahwa dalam periode 1990-1998 saja, KEL diperkirakan telah mengalami kehilangan orangutan sebanyak 2.785 ekor atau hampir setangah dari populasi awalnya (Tabel 2) (Van Schaik, 1999). Hal yang sama juga terjadi terhadap Gajah Sumatra yang populasinya saat ini telah terkotak kotak (fragmented) dalam jumlah yang kecil yang umumnya berada dibawah ambang batas keselamatan untuk jangka panjang (LMU Annual Report, 1999).

 

Tabel 2. Berkurangnya Populasi Orangutan Di Daerah Rawa KEL

 

 

Daerah Rawa

Jumlah Orangutan

% Berkurangnya Orangutan

1990

1998

Tripa

1,350

575

43

Kluet - Bakongan

700

390

56

Trumon - Singkil

3,300

1,600

49

Total

5,350

2,565

48

Sumber: Van Schaik (1999)

                

Penyebab utama rusaknya hutan, selain akibat penebangan yang sistematis dan legal oleh pemegang konsesi hutan (HPH dan IPK), disebabkan juga oleh penebangan liar (illegal loging) yang semakin meraja lela tidak saja di KEL, tetapi hampir di seluruh Indonesia. Penebangan liar dalam KEL dapat terjadi dalam berbagai bentuk kegiatan seperti: (1) penebangan dalam kawasan lindung; (2) penebangan yang menyalahi peraturan pemerintah oleh pemegang konsesi hutan (HPH); (3) penebangan oleh pihak kedua dalam kawasan konsesi hutan (HPH); dan (4) penebangan oleh pemegang IPK di luar lokasi IPK (Gawi, 2000). Kalau kegiatan penebangan liar ini tidak dihentikan, maka diperkirakan pulau Sumatra tidak memiliki hutan alam lagi pada tahun 2005 (Richardson, 2000).

 

Kayu yang dihasilkan dari penebangan secara liar memasok hampir setengah dari kebutuhan industri kayu Indonesia (Richardson, 2000). Hal ini membuktikan bahwa pemerintah indonesia telah tmengembangkan industri pengolahan kayu tanpa melihat kemampuan suplai kayu yang ada. Selain maraknya penebangan liar untuk mensuplai kebutuhan industri pengolahan kayu, hutang industri pengolahan kayu yang macet, yang tentu saja menjadi beban pemerintah dan rakyat Indonesia, saat ini mencapai US$ 2,7 miliar (Purnomo, 2000). Hal ini telah menyebabkan kehilangan pendapatan  dan tanggung jawab membayar hutang bagi pemerintah Indonesia, tidak tercapainya sasaran pinjaman oleh negara donor, terpakainya sebagian dana pemerintah (DR) yang seharusnya diperuntukkan untuk kesejahtreaan masyarakat, dan tentu saja hilangnya keuntungan dari sumber daya hutan.

 

Penjelasan di atas, baik pada tataran mikro (rusaknya sistem penyangga kehidupan dan keanekaragam hayati) maupun pada tingkat makro (menumpuknya hutang sektor kehutanan) secara langsung maupun tidak telah menurunkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 

 

PERAN UML DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN

MASYARAKAT[3]

 

1.      Penyelamatan Sumber Daya Alam dan Sistem Penyangga Kehidupan

Salah satu tujuan utama PPL adalah menciptakan kondisi yang diperlukan untuk penyelamatan KEL, yang berarti penyelamatan sumber daya alam dan sistem penyangga kehidupan yang terkait dengannya. Harapan yang ingin dicapai adalah selesainya infraktur di dalam KEL untuk menunjang pelesatrian KEL dan pembangunan berkelanjutan pada tingkat regional. Pekerjaan ini tentu saja tidak mudah mengingat KEL adalah sebuah kawasan yang sangat luas dengan keterlibatan berbagai kepentingan di dalamnya. Walaupun demikian, beberapa program yang dilakukan UML saat ini mempunyai korelasi yang sangat nyata dengan tujuan di atas. Beberapa diantaranya adalah:

 

  1. Hutan Kemasyarakatan (HKM)

Hutan kemasyarakatan dikembangkan dengan dua tujuan utama, yaitu merehabilitasi hutan dan DAS yang telah mengalami degradasi serta memberikan akses kepada masyarakat untuk memanfaatkan KEL dengan menanami pohon kehutanan yang memiliki nilai ekonomi. Program ini dijalankan di daerah penyangga KEL dengan melibatkan kerja sama dengan instansi terkait dan LSM. Kemajuan yang telah dicapai sampai saat ini adalah terbentuknya kelembagaan untuk implementasi Hutan Kemasyarakatan, yaitu Tim HKM tingkat propinsi dan Tim HKM Tingkat Kabupaten pada masing-masing kabupaten yang terkait dengan KEL serta kelembagaan tingkat petani yang akan terlibat dalam program.

 

Pada tingkat kabupaten dan desa saat ini sudah dimulai pembentukan kelompok HKM yang segera ditindak lanjuti dengan program pembibitan. Pelaksanaan program ini agak terkendala oleh keterlambatan pencairan dana oleh pihak Uni Eropa sehingga menimbulkan konsekuensi keterlambatan pula dalam implementasi program.

 

Selain pola HKM di atas, saat ini UML juga bekerja sama dengan masyarakat untuk memanfaatkan Hasil Hutan Non Kayu sebagai salah satu sumber penghasilan tambahan dari dalam KEL. Akibat situasi keamanan yang tidak kondusif, program ini belum dapat berjalan sebagaimana mestinya.

 

  1. Mendukung Usaha Penegakan Hukum

Salah satu ancaman utama pelaksanaan PPL adalah masih ditemukannya berbagai kegiatan di dalam KEL yang tidak sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan-kegiatan ini kalau tidak segera dihentikan ataupun dikurangi akan terus mengancam usaha penyelamatan sumber daya alam dan sistem pendukung kehidupan KEL.

 

UML telah melakukan berbagai bentuk monitoring terhadap kegiatan-kegiatan yang melanggar peraturan perundang-undangan seperti yang dilakukan oleh pemegang konsesi hutan (HPH). Hasil analisis UML menunjukkan ada sekitar 86% lokasi HPH yang berada dalam KEL tidak sesuai dengan peraturan pemerintah terutama dalam kaitannya dengan kemiringan lahan dan kedekatan lokasi dengan sungai dan anak sungai. Lokasi  ini seharusnya diklasifikasikan sebagai kawasan lindung untuk menyelamatkan sungai dan anak sungai sehingga irigasi bisa terus mensuplai air untuk produksi pangan masyarakat.

 

Kegiatan penebangan liar juga marak hampir diseluruh KEL. UML telah membiayai berbagai operasi penertiban yang dilakukan oleh instansi terkait, tetapi hasil yang dicapai sangat minimal. Penebangan liar memiliki dilemanya sendiri. Dari satu sisi masyarakat memperoleh lapangan pekerjaan yang mudah dengan upah sangat minimal, sebaliknya yang memperoleh keuntungan terbesar adalah pengusaha kayu dan aparat yang mendukungnya. Apakah kita harus terus menyaksikan kejadian ini?

 

2.      Pengembangan Ekonomi Masyarakat

Pengembangan ekonomi masyarakat secara langsung yang dilakukan UML selama ini bertujuan untuk memberikan kegiatan ekonomi alternatif bagi masyarakat yang bermukim di sekitar KEL sehingga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap kegiatan ilegal dari dalam KEL. Upaya yang dilakukan meliputi pengembangan intensifikasi pertanian, peternakan, dan perikanan, pengembangan infrastruktur fisik, dan industri kerajinan rakyat (Tabel 3).

 

Tabel 3. Implementasi Mikro Proyek UML

Jenis Kegiatan

 

Tahun Anggaran

 

Monitoring

 

 

Infrastruktur

 

Pertanian

 

SDM

Unit

Jumlah (000)

Unit

Jumlah (000)

Unit

Jumlah (000)

Unit

Jumlah (000)

1996 / 1997

-

-

-

-

3

75.000

3

75.000

1997 / 1998

1

15.000

6

125.400

17

438.500

7

108.280

1998 / 1999

5

175.000

19

497.500

27

589.000

23

306.640

T o t a l

6

190.000

25

622.900

47

1.102.500

33

489.920

 Sumber: Laporan Tahunan UML (1999).

 

3.      Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)

UML menyadari sepenuhnya bahwa pengembangan SDM merupakan sebuah investasi yang sangat bernilai untuk memantapkan pelaksanaan PPL baik kini maupun di masa mendatang. Oleh sebab itu program pengembangan SDM baik secara internal maupun eksternal terus dilakukan oleh UML. Secara internal UML melaksanakan training staf baik di dalam maupun di luar negeri. Secara eksternal UML juga melaksanakan pengembangan SDM baik pada instansi terkait maupun LSM dan masyarakat luas. Pada saat ini, melalui kerja sama dengan Pemda Propinsi D.I. Aceh, UML sedang mengembangkan modul pelajaran tentang KEL dan lingkungan hidup yang diharapkan dapat segera dicantumkan sebagai salah satu muatan lokal dalam kurikulum belajar SD, SMP, dan SMU. Kehadiran KEL dalam kurikulum lokal diharapkan dapat meningkatkan apresiasi pelajar tentang pentingnya penyelamatan KEL.

 

4.      Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Sesuai dengan tingginya muatan keanekaragaman hayati di dalamnya, KEL dapat dianggap sebagai sebuah laboratorium alam yang menyimpan begitu banyak ilmu pengetahuan yang belum terungkap. Saat ini penelitian-penelitian dasar yang diikuti dengan penelitian terapan sedang dikembangkan dengan melibatkan peneliti-peneliti dari dalam dan luar negeri. Dalam penelitian-penelitian yang melibatkan peneliti asing selalu diupayakan melibatkan peneliti muda dan mahasiswa Indonesia sebagai pendamping serta masyarakat di sekitar KEL sebagai pemandu. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi peneliti Indonesia untuk meneliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

 

PPL juga mengambil prakarsa antara lain berupa dukungan dana bagi mahasiswa setempat yang bermaksud menyusun skripsinya berdasarkan data penelitian yang dilakukan dalam KEL. Selain itu berbagai program dirancang dalam rangka membantu upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya bagi dosen muda dari universitas setempat seperti Unsyiah, USU dan universitas lainnya di Aceh dan Sumut. Hal ini dilakukan antara lain melalui pengembangan program penelitian dan pendidikan ekologi, kesempatan menjadi mitra kerja peneliti asing yang melakukan penelitian dalam KEL, pertukaran dosen, dan pelatihan dengan mendatangkan tenaga ahli asing.

 

5.      Pengembangan Jaringan Horizontal

 

Saat ini dilapangan sudah banyak institusi lain baik pemerintah dan non-pemerintah yang juga mempunyai interes dibidang konservasi hutan, khususnya KEL. Oleh sebab itu, UML sangat menyadari bahwa sinergi perlu diciptakan dengan organisasi yang memiliki visi yang sama tentang konservasi. Dalam kaitan ini, UML telah banyak bekerja sama dengan LSM, organisasi profesi, pasantren, kelompok swadaya masyarakat, dan lain-lain baik di tingkat propinsi maupun kabupaten yang terkait.

 

PENUTUP

Program Pengembangan Leuser yang dilaksanakan oleh Unit Manajemen Leuser ditujukan untuk menciptakan kondisi yang diperlukan bagi konservasi Kawasan Ekosistem Leuser yang efektif untuk jangka panjang. Kondisi tersebut dapat berupa (1) kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengkonservasikan KEL; (2) penghilangan atau pengurangan kegiatan yang merusak di dalam KEL dan pada saat bersamaan menciptakan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan; (3) penyediaan kesempatan alternatif bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi dan peningkatan produksi pertanian di sekitar KEL; dan (4)  pengakuan dari Pemerintah RI terhadap KEL sebagai kawasan yang strategis untuk konservasi alam.

 

Kelestarian KEL tidak hanya menjamin meningkatnya kesejahteraan masyarakat sekitar hutan tetapi juga masyarakat di sekitar kawasan yang sumber penghidupannya terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan jasa ekologis yang disediakan KEL.

*****

 

DAFTAR BACAAN

 

 

Elfian, 1996. Hasil Studi WWF Terhadap Kerugian Akibat Deforestasi di Propinsi

D.I. Aceh. WWF. Tapak Tuan.

 

Gawi, J.M. 2000. Illegal Logging and Ecological Damage to the Leuser Ecosystem.

Paper dipresentasikan dalam Seminar CGI tentang Kehutanan, Jakarta 26 Januari 2000.

 

Pian, Z.A. 1998. Konservasi Kawasan Ekosistem Leuser: Ancaman dan Manfaat.

            UML. Medan.

 

Ponting, C. 1992. The Green History of the World. Penguin Book. New York

 

Poore, D and J. Sayer (1991). The Management of Tropical Moist Forest Lands.

            Ecological Guidelines. IUCN.

 

Purnomo, A. 2000. Private Sektor Debt in Forest Industry. Paper dipresentasikan

dalam Seminar CGI tentang Kehutanan, Jakarta 26 Januari 2000.

 

Richardson, M. 2000. “Indonesia Faces Forest Dilemma.” In International Herald

Tribune: 01-02-00.

 

UML, 1999. Annual Report. UML. Medan

 

Van Schaik, C. 1999. The Study of Orangutan Habitat in Three Swamp Areas in

Southern Aceh. UML. Medan.

 

 

 

 

 

Lampiran 1.

 

Produk dan Jasa Utama Hutan Tropis

Produk

Jasa

Manfaat lainnya

Pemeliharaan keanekaragaman hayati

 

 

 

Pengaturan iklim

 

 

Konservasi tanah dan air

 

 

 

 

 

Penghasilan non-kayu

 

 

 

 

Penghasilan kayu

 

 

 

Pemeliharaan satwa liar

 

 

 

 

Rekreasi dan wisata

 

 

 

 

Berbagai  areal cadangan yang subur dan berpotensi untuk dijadikan lahan pengembangan usaha pertanian

 

Dukungan terhadap pembangunan desa

 

 

 

Tersedianya sumberdaya pendidikan dan penelitian

 

 

 

Pelestarian warisan budaya

 

 

Keindahan alam

 

 

 

Opsi untuk masa yang akan datang

 

 

 

Perlindungan terhadap seluruh jajaran spesies satwa dan tumbuhan

 

 

 

Mengatur iklim secara lokal maupun global

 

Terkendalinya erosi dan sedimentasi

 

 

 

 

Hutan alam menyediakan berbagai jenis makanan, obat-obatan, serat (fibres), minyak, bahan pewarna, resin dll.

 

Hutan mempersembahkan hasil perkayuan secara lestari

 

 

Hutan mendukung kehidupan ikan dan satwa, yang mana merupakan sumber makanan vital bagi masyarakat lokal

 

Trekking, mendaki gunung, arung jeram (rafting), fotografi

 

 

 

Tanah yang tertutup oleh kanopi hutan dapat dimanfaatkan, dengan hati-hati, untuk sistem pertanian yang produktif dan lestari

 

Pepohonan dapat dimanfaatkan untuk rehabilitasi kawasan yang mengalami degradasi.

 

 

Hutan membuka peluang di dalam bidang  pendidikan formal maupun informal

 

 

Hutan berperan dalam budaya dan tradisi masyarakat

 

Hutan meningkatkan mutu lingkungan di sekitar kota dan jalan raya

 

Lahan yang termasuk areal hutan memelihara proses alami serta memaksimalkan opsi untuk masa yang akan datang.

Melestarikan variasi genetika, terutama buah-buahan untuk dikembangkan di masa yang akan datang

 

 

 

 

Melindungi investasi di hilir seperti irrigasi, pertanian, perikanan, rekreasi, transportasi dll.

 

 

HHNK dapat memainkan peranan penting di dalam sistem ekonomi lokal

 

 

Dibutuhkan oleh masyarakat lokal maupun negara.  Sumber devisa yang penting.

 

Menunjang sarana industri, olahraga dan rekreasi

 

 

 

Menarik minat wisatawan lokal maupun asing, serta menciptakan peluang kerja bagi usaha lokal

 

 

Pada kasus tertentu, hutan dapat memainkan peran penting dalam menjamin tersedianya kebutuhan pangan

 

 

 

 

 

 

Para peneliti mempekerjakan pemandu, assisten, juru masak dsbnya dari kalangan masyarakat se tempat.

 

Pariwisata

 

 

Tersedianya areal rekreasi dan wisata

 

 

 

 

Sumber: Poore, D & Sayer, J, (1991)


Lampiran 2.

 

RINGKASAN KEGIATAN UML DI PROPINSI D.I. ACEH

 

 

I.                    Divisi Pendukung Program (General Program Support)

 

1.      Penulisan Buku tentang Ekosistem Leuser

Untuk mensosialisasikan Pentingnya Kawasan Ekosistem Leuser kepada siswa/I  sejak dini, melalui kerja sama dengan Pemda telah disusun modul mengenai EL untuk dicantumkan sebagai salah satu muatan lokal dalam kurikulum SD, SMP, dan SMU guna menambah pengetahuan tentang Leuser.

 

2.      Pembuatan Pos Pusat Informasi

Guna memberikan informasi yang lebih jelas kepada masyarakat luas sehingga dapat diperoleh interpretasi yang lebih baik dan benar akan keberadaan Ekosistem Leuser, maka didirikanlah Info Pos yang berfungsi sebagai sarana penyuluhan, pendidikan, dan pelatihan dalam bidang pendidikan umum, pertanian, kepemudaan, dan PKK di Aceh Timur, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara.

 

3.      Dukungan buat LSM dan Pemuda

Dukungan diberikan dalam membantu kegiatan LSM dan kepemudaan terutama yang berhubungan dengan Program Pengembangan Leuser.

 

 

II.                  Divisi Konservasi dan Manajemen (Conservation and Management Division)

 

1.      Kegiatan Pengamanan dan Perlindungan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat melalui penyuluhan dan sarasehan di dalam / sekitar Ekosistem Leuser sehingga masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengamanan ekosistem. Dalam hal pengamanan, juga telah dilaksanakan kegiatan monitoring terhadap pengrusakan hutan dalam kawasan Ekosistem Leuser / TNGL melalui pelaksanaan operasi gabungan dan survei photo udara.

 

2.      Memelihara kondisi ekologi yang sesuai untuk kelangsungan hidup satwa langka.

Untuk dapat mengembalikan kondisi ekologi yang telah rusak, maka telah dilaksanakan reboisasi habitat satwa yang telah rusak dan juga dengan cara menghutakan kembali 400 Ha tanah di desa Ie Jeurneuh yang merupakan koridor penghubung hutan rawa Singkil di A. Selatan dan hutan dataran rendah di A. Tenggara.

 

 

3.      Mengurangi konflik manusia dan satwa.

Untuk membantu mengatasi konflik antara manusia dan satwa dengan melakukan monitoring dan survei daerah konflik antara lain di daerah Singkil - Bengkung koridor.

 

 

III.                Divisi Pengembangan Daerah Penyangga (Buffer Zone Development)

 

1.      Pembuatan Tanda Batas Kawasan Ekosistem Leuser (KEL)

Program ini ditujukan untuk menandai batas KEL sepanjang 1700 km yang terletak di enam Kabupaten di Aceh. Program ini dilaksanakan oleh kontraktor dari Banda Aceh dan berada di bawah koordinasi Bapedalda Aceh.

 

2.      Melaksanakan Survei Tentang Kondisi Daerah Di Dalam Dan Di sekitar KEL Terutama Dalam Kaitannya Dengan Ketersediaan Air.

Survei sungai yang dilakukan di enam Kabupaten di Aceh menunjukkan bahwa 53 persen sungai yang mengalir dari KEL debit airnya tinggal kurang dari 50 persen bila dibandingkkan dengan 10 tahun yang lalu. Selain itu, survei kondisi sawah beririgasi juga menunjukkan bahwa lebih dari 15.000 ha sawah mengalami kekeringan/kurang air dengan kerugian sekitar Rp. 200 miliar setiap tahunnya. Selain itu telah pula dilakukan survei kegiatan pemanfaatan sarang burung di Aceh Selatan.

 

3.      Mendukung Kegiatan Pemanfaatan Hutan yang Berkelanjutan.

Kegiatan ini dilakukan bersama masyarakat yang bermukim disekitar KEL dengan tujuan untuk memanfaatkan hutan tanpa merusak. Kegiatan yang sedang dilakukan adalah pemanfaatan hasil hutan non kayu di Kemukiman Manggamat.  Dalam kegiatan ini, UML membantu masyarakat baik secara teknis maupun finansial. Selain itu, juga sedang dikembangkan kegiatan hutan kemasyarakatan di eam kabupaten di Aceh.

 

4.      Mengurangi Kegiatan Pemanfaatan Hutan yang Tidak Berkelanjutan.

Kegiatan ini dilakukan melalui analisis kesesuaian semua kegiatan kehutanan di daerah zona penyangga dan ikut serta dengan pemerintah daerah dalam mengevaluasi keberadaan kegiatan pemanfaatan hutan di dalam KEL.

 

5.      Pengembangan Ekoturisme di Aceh

Kegiatan ini untuk memanfaatakn potensi ekoturisme yang ada di KEL. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan adalah: (1) pelatihan Bahasa Inggris, Arung Jeram, dan pendakian gunung; (2) mengembangkan infrastruktur ekowisata seperti toilet, gapura, tempat berteduh, dll.: (3) melakukan seminar dan loka karya Ekowisata, dll.; dan (4) melaksanakan inventarisasi objek ekowisata untuk kelak dikembangkan sebagai daerah tujuan ekowisata.

 

6.      Kerja Sama Dengan LSM Lokal.

Sebagian besar program kerja UML diimplementasikan dengan bekerja sama dengan LSM lokal. Beberapa di antaranya adalah kegiatan survei sarang burung, kegiatan pemanfaatan hasil hutan non kayu, kegiatan hutan kemasyarakatan, kegiatan pemantauan kinerja HPH,  pengembangan ekoturisme, dll.

 

 

 

IV.               Divisi Pengembangan Daerah Produksi Intensif (Intensif Production Area Development)

 

1.      Kerja Sama Perencanaan Regional Bersama Bappeda Tk. I dan Tk. II

Perencanaan yang dilakukan terutama dalam kaitannnya dengan pelaksanaan program mikro proyek di bidang pertanian, infrastruktur fisik, industri kecil, dan pengembangan SDM.

 

2.      Pelaksanaan Mikro proyek dibidang pertanian, infrastruktur fisik, industri kecil, dan pengembangan SDM di enam Kabupaten yang berbatasan dengan Kawasan Ekosistem Leuser.

Tujuan mikro proyek tersebut adalah untuk mengurangi ketergantungan penduduk dari exploitasi hutan yang tidak berkelanjutan. Pelaksanaannya dilakukan oleh masing-masing instansi terkait dibawah koordinasi Bappeda di setiap Daerah Tingkat II. Sampai saat ini sudah sekitar 100 mikro proyek di laksanakan di enam kabupaten di Propinsi D.I. Aceh.

 

3.      Melakukan penelitian yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar KEL.

Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar KEL sehingga dapat diprediksikan program apa yang perlu dan dapat dikembangkan di suatu daerah.

 

4.      Bekerja sama dengan instansi terkait dalam menyiapkan pembangunan lapangan terbang di Kabupaten Aceh Tenggara.

UML menyediakan dukungan dana dan teknis sesuai kebutuhan.

 

 

V.                 Divisi Riset, Monitoring, dan Informasi (Research, Monitoring, and Information Division)

 

1.      Membangun 4 Stasiun Penelitian dan termasuk 1 pos monitoring.

Kegiatan ini ditujukan untuk terus memantau kondisi dan potensi lingkungan Ekosistem Leuser.

 

2.      Kerjasama Penelitian.

Kegiatan ini dilakukan melalui kerja sama dengan  berbagai instansi baik di tingkat lokal seperti Unsyiah, STIK; di tingkat Nasional seperti LIPI, UNAS, IPB, dll; dan di tingkat Internasional dengan berbagai Universitas di luar negeri.

 

3.      Mengembangkan Kurikulum Muatan Lokal Ekosistem Leuser Bagi SD, SLTP & SLTA di Aceh.

Program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Unsyiah, dan Kantor Gubernur D.I. Aceh. Tujuannya adalah untuk memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak didik tentang pentingnya pelestarian lingkungan khususnya Kawasan Ekosistem Leuser.

 

4.      Kerjasama dengan institusi terkait.

Melaksanakan program kerjasama dengan UNSYIAH untuk mendukung pelaksanaan penelitian khususnya dalam bidang biologi, juga memberikan dana kepada mahasiswa maupun staf pengajar dalam penulisan skripsi atau thesis, melakukan riset, mengikuti seminar dan pelatihan serta pembangunan infrastruktur.

 

 

 

****

 



[1] Untuk uraian yang lebih rinci, lihat lampiran 1.

[2] Menggunakan kurs tahun 1996 yaitu  sekitar Rp. 2500 untuk 1 US$

[3] Penjelasan yang lebih rinci kegiatan UML di Aceh dapat dilihat pada Lampiran 2.